BERBAGAI manfaat dapat dipetik oleh setiap pengguna
media jejaring sosial jika digunakan dengan bijak. Namun, ternyata tidak
semua pengguna media jejaring sosial mampu menggunakannya dengan baik.
Tidak jarang, beberapa pemilik akun jejaring sosial menggunakan Twitter, Facebook, dan blog untuk menampilkan isu provokatif serta kata-kata maupun gambar yang vulgar atau tidak pantas. Bahkan, di Twitter, terkenal istilah Tweet War atau perang kata-kata sindirian antarpribadi.
Menanggapi hal tersebut, beberapa mahasiswa selaku pengguna aktif media jejaring sosial angkat bicara. Menurut Rilia Marina, mahasiswa The London School of Public Relations (LSPR), munculnya fenomena tersebut merupakan akibat dari tidak adanya regulasi.
"Walaupun sudah ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tapi kejahatan pada dunia maya (cybercrime) masih tetap ada. Maka, Kementerian Informasi dan Elektronika (Kemenkominfo) harus memberikan regulasi yang lebih tegas," ujar Rilia yang dihubungi okezone melalui telepon.
Mahasiswa jurusan Marketing Communication semester lima ini menyebutkan, saat ini kejahatan di dunia maya semakin frontal. "Dulu untuk menyindir seseorang ketika sedang kesal, hanya menggunakan inisial. Tapi makin ke sini, orang semakin frontal untuk menyebutkan nama lembaga atau orang yang dituju," katanya menjelaskan.
Pendapat serupa diungkapkan, Fina Prichilia, mahasiswa Jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Fina menyatakan, perilaku negatif yang dilakukan para pengguna jejaring sosial justru merugikan diri mereka sendiri.
"Mereka yang menampilkan kata-kata atau gambar yang tidak pantas itu justru menjatuhkan harga diri mereka sendiri. Tidak perlulah sampai menampilkan gambar atau kata-kata seperti itu apalagi kalau sampai menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)," tutur Fina.
Sementara itu, Bastian, mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengungkapkan, perilaku negatif para pengguna media sosial ini hanya sebatas ingin mencari perhatian.
"Mungkin orang itu hanya ingin menjadi trending topic di jejaring sosial. Hal seperti ini justru membuat saya sangat tidak simpatik," kata Bastian.
Perilaku negatif ini, menurut Rilia, bersumber dari tiap pribadi pengguna akun jejaring sosial. "Semuanya kan balik lagi ke tiap pribadi. Sekarang tinggal bagaimana kita mampu membentengi diri agar tidak mengikuti hal tersebut," kata dara yang juga bekerja di salah satu radio swasta ini.
Tidak jarang, beberapa pemilik akun jejaring sosial menggunakan Twitter, Facebook, dan blog untuk menampilkan isu provokatif serta kata-kata maupun gambar yang vulgar atau tidak pantas. Bahkan, di Twitter, terkenal istilah Tweet War atau perang kata-kata sindirian antarpribadi.
Menanggapi hal tersebut, beberapa mahasiswa selaku pengguna aktif media jejaring sosial angkat bicara. Menurut Rilia Marina, mahasiswa The London School of Public Relations (LSPR), munculnya fenomena tersebut merupakan akibat dari tidak adanya regulasi.
"Walaupun sudah ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tapi kejahatan pada dunia maya (cybercrime) masih tetap ada. Maka, Kementerian Informasi dan Elektronika (Kemenkominfo) harus memberikan regulasi yang lebih tegas," ujar Rilia yang dihubungi okezone melalui telepon.
Mahasiswa jurusan Marketing Communication semester lima ini menyebutkan, saat ini kejahatan di dunia maya semakin frontal. "Dulu untuk menyindir seseorang ketika sedang kesal, hanya menggunakan inisial. Tapi makin ke sini, orang semakin frontal untuk menyebutkan nama lembaga atau orang yang dituju," katanya menjelaskan.
Pendapat serupa diungkapkan, Fina Prichilia, mahasiswa Jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Fina menyatakan, perilaku negatif yang dilakukan para pengguna jejaring sosial justru merugikan diri mereka sendiri.
"Mereka yang menampilkan kata-kata atau gambar yang tidak pantas itu justru menjatuhkan harga diri mereka sendiri. Tidak perlulah sampai menampilkan gambar atau kata-kata seperti itu apalagi kalau sampai menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)," tutur Fina.
Sementara itu, Bastian, mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengungkapkan, perilaku negatif para pengguna media sosial ini hanya sebatas ingin mencari perhatian.
"Mungkin orang itu hanya ingin menjadi trending topic di jejaring sosial. Hal seperti ini justru membuat saya sangat tidak simpatik," kata Bastian.
Perilaku negatif ini, menurut Rilia, bersumber dari tiap pribadi pengguna akun jejaring sosial. "Semuanya kan balik lagi ke tiap pribadi. Sekarang tinggal bagaimana kita mampu membentengi diri agar tidak mengikuti hal tersebut," kata dara yang juga bekerja di salah satu radio swasta ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar